"Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu; Berlapang-lapanglah dalam majelis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Mujaadilah: 11)

”Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata, Sungguh keberadaan agama Islam dan keberlangsungan dunia ini adalah dengan keberadaan ilmu agama, dengan hilangnya ilmu akan rusaklah dunia dan agama. Maka kokohnya agama dan dunia hanyalah dengan kekokohan ilmu. (Miftah Daris Sa'adah 1: 500)

Masruq berkata, Sekadar dengan kualitas ilmu yang dimiliki seseorang maka sekadar itulah rasa takutnya kepada Allah. Dan sekadar dengan tingkat kebodohannya maka sekadar itulah hilang rasa takutnya kepada Allah. (lihat Syarh Shahih al-Bukhari karya Ibnu Baththal, 1/136)

Senin, 17 Juli 2017

Bisikan yang Terdengar di Langit

Bismillah...
Beberapa waktu terakhir aku sering dikagetkan dengan beberapa kejadian. Hal yang baru saja terlintas di benak tiba-tiba terjadi di depan mata. Aku sendiri heran, kenapa itu bisa terjadi? Oke, aku ingin menceritakan apa yang sekarang sedang terlintas saja. Ngedadak gitu ya, kayak goreng tahu bulet. Sip.

Waktu itu tanggal 1 Juli 2017, sore harinya aku pulang dari acara Diaspora Indonesia di Kokas, Jakarta ke Bekasi naik kereta. Itu sendirian waktu di kereta jurusan Bekasi. Hm, jomblo banget ya, Kak? Hahaha. Ya gitu deh. Aku langsung menuju gerbong khusus perempuan. Itu rasanya udah capek banget karena aku orangnya emang gampang capek. Nggak lama aku duduk, eh ada ibu-ibu yang udah tua, pandangannya menyapu isi gerbong seperti berharap ada yang ingin bertukar posisi dengannya. Aku lihat sekeliling. Semua asik dengan ponselnya masing-masing. Akhirnya, aku bangun bersedia bertukar posisi dengan ibu itu. Aku lihat seyumnya merekah dan matanya berbinar. Pemandangan itu justru membuat aku lebih bahagia. Alhamdulillah...

Selama beberapa lama berdiri, sudah agak dekat ke Stasiun Bekasi tapi masih jauh juga kalau jalan kaki (yaiyalah-_-), aku mulai pusing, hehehe. Waktu itu sudah tidak ada nenek-nenek atau orang tua lagi di gerbong itu. Aku mau duduk. Akhirnya aku doa.

"Ya Allah, aku mau duduk."

Cukup. Begitu aja doanya. Beberapa menit kemudian, tidak sampai sepuluh menit sepertinya, benar-benar orang yang tidak jauh dari tempat aku berdiri bangkit dari kursinya. Lalu kursi itu jadi milikku. Alhamdulillah, Allah mendengar dan mengabulkan doaku. Dia Maha Mengetahui segala isi hati

Pada kejadian lain, aku lagi cari surat penting untuk keperluan aku kuliah. Okedeh, aku lagi cari legalisir ijazah. Ternyata cuma sisa satu-satunya. Mungkin kebiasaan aku dulu yang suka daftar lalu tiba-tiba keluar gitu aja hahaha. Nggak sadar deh stok legalisir ijazahnya udah abis. Nah, waktu itu aku butuhnya dua. Besoknya harus dikumpulin dan itu udah malem. Jadi nggak mungkin ke sekolah karena berangkatnya pagi-pagi banget. Aku udah fotokopi berwarna legalisir yang ada, tapi takut juga kalau ketauan itu bukan legalisir yang asli. Lalu aku ubek-ubek file yang isinya surat-surat penting. Berantakan semua, hadeh. Pusing banget, akhirnya aku doa lagi.

"Ya Allah, gimana nih adanya cuma satu, padahal aku butuhnya dua."

Dan . . .
Secara tiba-tiba lagi aku nemuin yang aku butuhin, satu lembar legalisir ijazah. Ujungnya pun udah agak robek. Aku nggak ngerti. Yang aku inget, aku cuma punya lima lembar dan itu udah abis semua di tahun kemarin kecuali sisa satu lembar sebelum aku mutusin buat gap year. Alhamdulillah, Allah Maha Mendengar. Aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Rabbku.

Di lain kejadian ada lagi. Ini terjadi waktu aku kelas 12 di akhir semester disuruh ngumpulin rapot. Udah masa-masa selesai belajar juga. Waktu itu berangkat bawa tas isinya rapot doang ke sekolah bareng temen dibonceng motor. Ternyata eh ternyata, aku dibilangin kalau resleting tasku kebuka. Aku panik. Aku cek isinya. Taraaa! Rapotnya nggak ada. Bingung banget deh asli. Mana waktu itu lagi masanya masukin nilai buat daftar SNMPTN atau biasa disebutnya jalur undangan ya. Aku tanya guru, katanya bisa ngehubungin wali kelas dari kelas 10 buat minta nilainya lagi dan nanti dibuatin rapot baru. Aku hubungi wali kelas satu-satu, sedihnya bentrok jadwal terus. Karena wali kelasku waktu kelas 10 itu juga ngajar di sekolah lain. Nggak tentu juga kapan bisa ketemuan sama aku karena seinget aku laptop beliau dipake anaknya deh. Datanya di situ semua. Bingung bin pusing. Alhamdulillah wali kelas yang lain sih nggak ada kendala yang berarti.

Rasanya tuh, pengen bisa nemuin rapot itu lagi. Bagaimana pun keadaannya lah. Kami udah nelurusin jalan yang kami lewati sebelumnya, tapi nggak ada tanda-tanda sama sekali rapot itu jatuh di mana. Soalnya jalan yang kami lewatin itu jalan raya yang besar. Karena nggak bisa juga, akhirnya mencoba pasrah.

Besoknya aku disuruh ke sekolah lagi buat nemuin wali kelasku waktu kelas 10. Nunggu di mushalla sekolah bareng beberapa temen sampe hampir dzuhur. Nggak ketemu juga😢. Akhirnya aku pulang. Sorenya ada teman sekelasku yang SMS,

"Dindaaa, rapot kamu ilang ya? Sekarang udah di aku nih."
"Wah, iya. Siapa yang nemuin, de?" (temanku itu namanya Deana)
"Ada anak pramuka yang nemuin di lantai mushalla, din. Dia liat kelas kamu, ternyata sekelas sama aku akhirnya dia titipin ke aku. Padahal dia udah umumin di informasi kok hari ini. Besok kamu ambil ya aku tungguin di sekolah." jelas Deana.
"Iya makasih banyak ya, de. Besok aku dateng insya Allah."

Kurang lebih begitu isi percakapan kami. Alhamdulillah. Tapi aku nggak habis pikir, kok bisa? Kenapa harus di lantai ya? Bukannya di sekitar situ juga ada meja? Kalau pun itu dianterin sama seseorang karena liat nama sekolahku, kenapa harus di lantai padahal ruang informasi yang biasa dijaga sama guru piket letaknya lebih deket ke gerbang sekolah? Ribuan pertanyaan dan kemungkinan rasanya berputar-putar di otak.

Besoknya aku dateng ke sekolah nemuin Deana. Alhamdulillah. Setelah rapotnya udah di tangan aku, aku perhatiin keadaannya. Agak beda kayak waktu sebelum hilang. Sampulnya agak rusak karena gesekan. Tapi bodo amat sih keadaannya gimana yang penting ketemu, lagian juga udah mau lulus. Aku lagi mengira-ngira aja kenapa rapot itu bisa mendarat di lantai mushalla?
1. Kalau dibawa seseorang, kenapa nggak langsung ke ruang informasi atau ruang guru aja?
2. Kalau dibawa angin, angin sekenceng apa yang bisa nerbangin rapot seberat ini? (ini kok jadi mikirin fisika ya? 😂)
3. Dan berbagai kemungkinan lain. Panjang deh kayaknya aku pernah nulis di diary cuma males ngetiknya di sini. Alhamdulillah.... Jadinya aku nggak perlu ribet lagi ngurusin semuanya. Allah mudahin jalannya. Allah memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Kemudahan ini juga termasuk rezeki.

Lalu di kejadian lain lagi. Ini terjadi waktu aku umrah awal Februari 2017. Banyak banget doa yang mau aku panjatkan, tapi satu hal yang terlintas di pikiran dan aku mau waktu itu,

Aku mau move on.

HAHAHA.
Lelah hati lelah pikiran kalau aku suka sama orang tuh. Ketika aku memutuskan untuk suka ke satu orang, semua selain dia jadi bodo amat, hehehe. Aku tuh orangnya setia, Kakak :"). Gimana mau selingkuh, ngelupain satu orang aja butuh waktu bertahun-tahun. Dan dianya gitu-gitu aja lagi. Di titik itu aku udah jenuh banget soalnya udah otw lima tahun wkwk. Waktu itu di sepertiga malam terakhir aku abis thawaf dan shalat sunnah thawaf di Multazam, aku doa,

"Ya Allah, kalau memang dia bukan jodohku. Jadikan segala tentangnya biasa saja bagiku. Kalau memang dia udah nggak baik lagi untuk aku cintai, jadikan hanya cinta-Mu satu-satunya yang aku ingin tuju."

Sebenernya masih panjang sih doanya. Banyak maunya soalnya aku tuh. Tapi aku rasa itu sudah cukup menggambarkan keseluruhannya, terutama yang mau move on itu, hehe.

Setelah aku inget-inget lagi, sewaktu aku berdoa itu, aku mengumpulkannya dalam satu keadaaan yang pada saat itu menjadi seutama-utamanya waktu.
1. Sepertiga malam terakhir
2. Sesudah thawaf
3. Sesudah shalat
4. Di Multazam

Satu lagi sih, suara yang sangat memprihatinkan.

Masya Allah. Pantas saja rasanya sangat dahsyat. Efeknya juga luar biasa. Untuk yang terakhir, aku emang suka gitu. Kalau lagi doa dan banyak maunya tuh, aku sering nangis kalau denger aku nangis, hahaha. Ibaratnya kayak seseorang yang ditinggal pergi kekasihnya. Suara orang yang patah hati gimana sih, wkwk. Kenyataannya sih aku nggak ditinggalin siapa-siapa. Jadian aja engga, dan nggak akan pernah mau sih. Maunya "diseriusin", hehe. Okesip, jadi ngelantur.

Nah, di waktu dhuhanya, aku dari hotel mau pergi kan. Jalan-jalan menelusuri jejak sejarah Rasulullah saw. dan para shahabatnya di Kota Mekkah. Semuanya disuruh ngumpul di lobi hotel. Aku dan keluargaku (alhamdulillah, kami pergi sekeluarga, karena waktu itu ada yang mau ngebayarin) turun pakai lift. Aku nunduk aja. Emang nggak suka sih kalau mata ngelantur ke mana aja. Setelah masuk lift, Mamaku tiba-tiba ngomong pake suara agak keras ke arahku.

"Ya Allah, Kak... Ganteng banget, Kak!"

Aku biasa dipanggil pake "kakak" di rumah.

"Kenapa sih, Ma?" sambil mengangkat kepala.

Duh, ya Rabbi 😭
Di depan aku ada . . . lelaki super ganteng tepat berdiri kurang dari satu meter di hadapanku. Sumpah, ganteng banget! 😭. Aku kayaknya sering deh liat cowok cakep, tapi yg ini bener-bener bikin lemes! Hahaha. Terserah deh mau dibilang lebay atau apa pun. Tapi yang jelas, aku belum lupa wajahnya sampe sekarang. Wajah yang sangat-sangat tenang dan menenangkan. Speechless aku tuh ngerti nggak sih, hahaha. Oh ya, di hotelku waktu itu hampir didominasi sama orang Turki. Cewek-cewek ngerti lah ya gimana cakepnya cowok-cowok Turki, dan cewek Turki juga cakep kok. Mereka berseliweran di mana-mana selama aku di hotel, tapi aku biasa aja. Serius, biasa aja. Walaupan dalam hati tetep bilang cakep, hehe, tapi nggak sampe speechless rasanya. Yang ini tuh beda.

Aku nggak bisa membayangkan bagaimana rasanya jadi Zulaikha saat ngeliat dan tinggal bersama dengan Nabi Yusuf 😭. Dan ingat betapa konyolnya aku dulu doa agak maksa ke Allah supaya bisa ngeliat rupa Nabi Yusuf di dalam mimpi. Bisa-bisa bangun dari tidur aku mimisan kali yak saking nggak tahannya, HAHAHA 😂. Semenjak ketemu orang itu di lift sampe saat ini, setiap kali aku ngelewatin Surah Yusuf rasanya tuh deg-degan abis, hehehe. Berasanya lagi diperhatiin orang yang super duper guanteng! 🙈😂. Dan ternyata juga, aku pernah baca curhatan seorang cowok yang insya Allah sholeh, hehe, dia katanya kalau ngelewatin ayat tentang bidadari serasa ada yang berdesir di hati. Uuw, nggak ngerti deh apa yang dia bayangin tentang janji Allah yang satu itu! Semoga semua cowok setiap kali liat cewek cakep bisa kayak dia ya, inget janji Allah tentang bidadari yang jelita bagi yang mampu menundukkan nafsunya. Semoga aku juga, untuk pemuda surga, hehe.

Oke, back to the topic.
Satu hal yang aku pahami selama di sana: hampir sebuah keajaiban, jika kita bisa ketemu sama orang yang sama lebih dari satu kali padahal belum pernah kenal sebelumnya.
Dan yang ajaib, aku ketemu orang itu berkali-kali!

Nah, di sinilah letak keherananku. Aku sering tuh liat dia, walaupun dari jauh. Tapi kenapa aku nggak pernah berani ngambil fotonya yah? Seperti ada rasa malas yang tidak terhingga.
"Ah, ngapain sih ngambil fotonya," padahal hp udah di tangan.

Baru sekarang aku mikir: jangan-jangan orang itu malaikat.
Makanya toh aku nggak pernah mau ngambil fotonya. Dan dia muncul terus lagi. Aku inget banget, kita ketemu terus semenjak yang di lift itu sampe hari Jumat, sekitar 2,5 hari. Hahaha. Aku itungin loh. Dia menghilangnya hari Jumat dan nggak pernah muncul lagi sampe aku balik ke Indonesia, huhuhu.

Aku baru sadar sekarang, mungkin Allah mempertemukan aku dengan orang itu supaya aku bisa move on. Itu yang jadi doa aku di sepertiga malam terakhirnya di hari yang sama, lalu pada waktu dhuha Allah menghadirkan orang itu di hadapanku. Lalu menghilangkannya lagi, agar aku tidak terlalu berlebihan, hehehe. Dan agar aku menjadikan doa "Rabbana hablana min azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa qurrata a'yun waj-alnaa lilmuttaqiina imamaa" seperti dzikir harian layaknya istighfar, hehee.

Alhamdulillah, sejak saat itu, semua perasaan aku ke seseorang yang bikin aku nggak bisa move on sampe hampir lima tahun bisa hilang sehilang-hilangnya. Seperti tidak berbekas. Tidak berbekas sama sekali. Bagai embun yang menguap jika mentari sudah mulai nampak. Allah Mendengar, Mengabulkan, dan Maha Membolak-balikkan hati. Kun fayakun milik Allah terasa sangat nyata.

Terakhir cerita nih deh. Kejadiannya waktu di Madinah al-Munawwarah. Sebelum ke Mekkah, aku ke Madinah dulu. Waktu itu mau ke Raudhah. Kalau yang belum tau, Raudhah itu tempat di mana yang jadi jarak antara rumah Nabi saw. bersama Aisyah ra. dengan mimbar Nabi di Masjid Nabawi. Raudhah termasuk taman surga dan tempat terijabahnya doa.

Perempuan kalau mau ke Raudhah itu ada waktu khususnya, nggak seperti laki-laki yang 24 jam. Karena cuma di saat tertentu aja, jadinya tuh . . . rameee banget dan pake desek-desekkan buat masuknya. Badanku tuh mungil banget lah dibandingin orang sana 😢. Alhamdulillah bisa masuk. Nangis banget deh 😭. Memori otak tuh kayak keputer random, semua yang berkaitan dengan Rasulullah bikin aku ngerasa kayak di antara ada dan tiada. Kayak lagi di lorong waktu. Terlintas di benak waktu Rasulullah gigi gerahamnya patah waktu Perang Uhud, waktu sujud kepala beliau disiram pake kotoran onta, waktu beliau harus makan daun karena diboikot kaum kafir Quraisy Mekkah, dll, pokoknya banyak deh.

Nah, aku ketemu sama dua perempuan India, yang satu perawakannya besar dan yang satu udah agak tua. Yang udah tua itu kayak usia nenekku, dia meluk aku sambil nangis. Seperti seorang nenek yang udah lamaa banget nggak ketemu cucunya. Aku diciumin diusap dipeluk segala macem lah, dan itu semua dilakuin sambil nangis. Aku terharuu. Aku juga dipeluk sama yang berperawakan besar, lalu kami semua disuruh shalat dan katanya dia yang akan jagain kami selama shalat. Soalnya kalau nggak dijagain bisa keinjek sama orang Arab yang gede-gede😢. Waktu itu aku bareng Mama dan satu orang ibu-ibu, yang lain kepencar. Akhirnya kami shalat ya, selesai shalat aku mau lagi, belum puas doanyaaa. Yaudah aku shalat sekali lagi jadi dapet empat rakaat. Selesai shalat, perempuan India yang berperawakan besar itu baru mau shalat. Oh jadi, dia belum shalat? Wah, masya Allah, jiwa sosialnya tinggi banget di saat kayak gitu masih bisa mentingin orang lain. Gerak aja susah serius deh😢. Yaudah gantian kita jagain. Sebelumnya aku udah bilang makasih. Abis itu kita disuruh keluar karena banyak yang mau masuk lagi, harus gantian. Aku ditarik Mama duluan dan dua orang itu masih di belakang kami. Di pintu keluar Raudhah, udah banyak rombongan kami yang nunggu. Kita duduk di situ lama buat nungguin yang lain juga. Aku pengen bilang makasih sekali lagi sama yang tadi jagain aku. Aku rekam pake hp orang-orang yang keluar. Lumayan lama sih ngerekamnya. Harusnya sih, harusnya, ada dua perempuan India itu di rekamanku soalnya pasti disuruh keluar juga harus gantian. Tapi anehnya kok nggak muncul-muncul juga ya? Waktu aku bahas hal ini lagi di rumah, Kakakku bilang,

"Lu liat kakinya nggak?"
"Heleh mana merhatiin ke situ."
"Jangan-jangan itu malaikat penjaga Raudhah."

Aduh, kok jadi merinding ya😌. Soalnya aku tetep di deket pintu keluar Raudhah itu sampe hampir tengah malem dan nggak ngeliat dua perempuan India itu lagi. Ya Allah.... terus mereka itu siapa?

Pada akhirnya aku mengerti, segala sesuatu terjadi atas izin Allah. Bagi seorang mukmin, sebenarnya mudah mendapatkan apa yang dia mau tuh, tinggal bagaimana caranya ia bisa membuat Allah MAU mengabulkan itu untuk dirinya. Berdoalah. Buatlah Allah senang. Buat Allah ridha. Ceritakan pada-Nya apa pun masalahmu, walau hanya tentang seteguk air yang kaubutuhkan di kala dahaga. Sebab Allah malu jika ada hamba-Nya yang mengangkat tangan untuk berdoa lalu tangan itu kembali tidak membawa apa yang ia minta.

Allah baik banget!

Maafkan aku, ya Allah, jika masih sering meragukan kekuasaan-Mu 😢

Maka berdoalah. Sebab doa itu luar biasa, engkau berbisik di bumi, namun terdengar di langit.

Di kota yang katanya lebih jauh dari Pluto,
Bekasi, 18 Juli 2017

Dinda A. Putri

Selasa, 04 Juli 2017

Safar adalah Tawakkal

Hari itu tanggal 1 Juli 2017. Heboh berita di berbagai media mengenai kedatangan Presiden Amerika Serikat ke-44, Barack Obama. Aku sudah mengetahui itu sebelum kedatangan beliau karena diberitahu seorang teman untuk ikut ke acara Kongres Diaspora RI di Jakarta, tepatnya Kota Kasablanka. Alhamdulillah aku sudah daftar untuk acara konvesi Diaspora. Namun, untuk sesi pembukaan dengan pembicara Barack Obama aku hanya mendapat tiket waiting list yang berarti tidak pasti apakah aku benar-benar ikut atau tidak. Bismillah, paginya aku berangkat juga naik kereta. Sendirian. Maaf, ini tidak sedang menjelaskan betapa jomblonya diriku 😀. Tadinya ada seorang teman yang mau bareng tapi dia tidak dapat tiket waiting list, jadi katanya ia mau berangkat siang. Aku iyakan saja, sebab sebenarnya aku bukan takut sendirian. Tapi, itu hanya alasan agar aku diberi izin oleh orang tuaku.

Alhamdulillah sampai di sana masih antri. Aku sangat tau resiko ini. Tapi prinsipku satu,
"Kalau ini takdir baik untukku, Allah sangat mampu untuk membuat aku bisa masuk. Bahkan, yang sudah datang pun bisa Allah buat pulang lagi atas alasan apa pun."

Aku tidak peduli harus menunggu seberapa lama pun kalau aku bawa mp3 kesayanganku. Mp3 yang buat satu detik perjalananku menjadi tidak sia-sia. Ya, itu mp3 berisi alquran pemberian kakakku. Aku hanya mampu berdoa. Bukan hanya, itu adalah kekuatan paling besar yang dimiliki seorang hamba.

Oh ya, aku juga dapat banyak teman baru. Aku sendiri bingung dengan diriku. Aku bukan termasuk orang yang mudah bersosialisasi atau mendapat kawan baru dalam waktu singkat. Anehnya ternyata semua begitu mudah. Aku syukuri itu.

Sangat disayangkan, aku tidak mengikuti acara sampai selesai. Karena malamnya ada konser dan aku orang yang tidak terlalu suka dengan hiruk-pikuk keramaian, akhirnya sore harinya aku makan lalu pulang bersama dua orang teman.

Dari beberapa teman yang baru kukenal, tidak seorang pun yang pulangnya searah ke Bekasi. Lagi-lagi aku harus sendiri. Ditambah baterai hp mulai habis padahal nanti harus pesan ojek online. Akhirnya aku matikan total hp agar tidak menyedot baterai terlalu banyak saat tidak dipakai. Aku duduk di gerbong khusus perempuan. Baru saja menempelkan bokong, aku lihat seorang ibu berdiri sambil bola matanya mencari siapa kiranya yang bersedia bertukar posisi dengan dirinya. Aku lihat semua sibuk memainkan ponselnya masing-masing. Tanpa pikir panjang aku panggil ibu itu mempersilakan kursiku. Kulihat matanya berbinar dan senyumnya merekah. Ternyata, itu sudah cukup buat aku merasa lebih bahagia.

Entah kenapa aku memang mudah merasa capek. Aku berdoa semoga dapat kursi karena di sekitarku sudah tidak ada orang tua yang berdiri. Alhamdulillah, tidak lama setelah doa benar-benar dapat kursi. Saat itu terasa sangat nyata keberadaan Allah dan bahwa Dia Maha Mendengar segala isi hati.

Perjalanan ini memang bukan perjalanan panjang ataupun petualangan. Tapi aku percaya, safar mengandung banyak hikmah. Inilah yang menjadi topik terakhirku bersama teman baruku di stasiun waktu itu sebelum kami berpisah mengenai akhlak seseorang pada saat safar.

Ada cerita menarik terkait hal ini tentang Umar.

Suatu hari ketika seseorang memuji kawannya dalam persaksian sebagai orang baik, Umar bertanya padanya,

”Apakah engkau pernah memiliki hubungan dagang atau hutang piutang dengannya, sehingga engkau mengetahui sifat jujur dan amanahnya?”

”Belum...," jawabnya ragu.

"Pernahkah engkau berselisih perkara dan bertengkar hebat dengannya sehingga tahu bahwa dia tidak fajir dalam berbantahan?”

 "Hmm.. belum juga," jawabnya.

”Pernahkah engkau bepergian dengannya selama 10 hari sehingga telah habis kesabarannya untuk berpura-pura lalu kamu mengenali watak-watak aslinya?”

"Itu juga belum," jawabnya.

Umar pun berkata:

"Kalau begitu, pergilah kau, Wahai Hamba Allah! Demi Allah, kau sama sekali tidak mengenalnya!"

Bekasi, 4 Juli 2017

Dinda A. Putri

Rabu, 07 Juni 2017

WHAT IS THE DEFINITION OF LOVE?

Bismillah...

Assalamualaikum, Gan en Sis...
Entah kenapa pagi ini gue lagi ingin membahas tentang cinta dari sudut pandang yang berbeda. Tadi gue baru aja dengerin yutub ceramahnya Ust. Hanan Attaki, gimana caranya supaya viral di langit? Jadi selebgram langit gituh. Jawabannya adalah cinta.

Ah, gue mau jalan-jalan dulu. Gak mau langsung to the point. Ketika denger itu, gue langsung inget hadis dari 'Umar.

“Ya Rasulullah”, kata Umar perlahan, “Aku mencintaimu seperti aku mencintai diriku sendiri.”

Rasulullah tersenyum. “Tidak wahai Umar. Engkau harus mencintaiku melebihi cintamu pada diri dan keluargamu.”

“Ya Rasulullah”, kata Umar, “Mulai saat ini engkau lebih kucintai daripada apapun di dunia ini.”

“Nah, begitulah wahai Umar.”

Pertama kali baca hadis ini, respon gue, "Secepat itukah? Semudah itukah menata hati dan mengarahkan cinta?"

Hadis yang menurut gue serupa gue dengerin barusan di ceramah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Apabila Allah mencintai hamba, maka Jibril memanggil,
"Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah ia." Maka Jibril pun mencintainya. Lalu Jibril memanggil penghuni langit, "Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah ia." Maka penghuni langit pun mencintainya, kemudian di bumi ia menjadi orang yang diterima." (Hadits ditakhrij oleh Bukhari). 

Lah, ini juga gampang bener ya Jibril tuh buat cinta? Jadi muncullah pertanyaan lama yang pengen gue kubur dalem-dalem itu muncul lagi.

"WHAT IS LOVE?"

Apa itu cinta? Ketika makhluk-makhluk pilihan Allah sebegitu mudahnya menata hati dan mengubah cinta.

Setelah gue telusuri dan pikirkan dalam-dalam, ternyata jawabannya sangat sederhana. Gue berkaca ke diri gue sendiri, sebenarnya bagaimana selama ini gue ketika mencintai sesuatu? So, ini jawaban gue, mungkin sangat subjektif tapi bodo amat inilah jawaban gue.

"Cinta itu mencintai yang dicintai sang kecintaan."

Oke, ribet ya bahasa gue? Selama ini tuh diri gue ketika cinta atau suka sama sesuatu, gue selalu excited sama segala sesuatu yang doi suka. Hahaha.

Contoh simpelnya, gue gak suka olahraga. Tapi doi gue tuh suka banget olahraga. Hampir semua jenis olahraga dia suka. Terus ya, dia juga suka banget pake brand Nike.

(untuk pihak Nike, segera transfer jasa endorse-nya ya) #DindaSehatKok

Yoii, dia suka banget tuh pake brand Nike. Sepatu, jaket, kaos, dsb dsb. Banyak dah. Heleh sampe gue baper sendiri ke Nike. Tadinya gue masih bingung pilih #TimNike atau #TimAdidas HAHAHA. Sejak gue kesemsem sama dia, gue memutuskan pilih #TimNike.

Waktu gue, nyokap, kakak, dan adek gue ke SMB aje, gue baper banget liat logo Nike yang kayak gini ✔ HAHAHA. Liat logonya aja baper loh. Oke gue gapapa :")

Nah sampe situ aja gue ceritanya. Jadi cinta tuh mencintai yang dicintai sang kecintaaan. Dia suka, gue juga suka. Dia benci, gue juga bisa benci. Semua gue pandang pake relativitas dia. Kalo ada yang benci dia, gue gak peduli alias bodo amat. Kalo ada yang suka dia, kita bisa seru-seruan bareng ngomongin doi. Ahahahaha.

Back to Umar and Jibril. Kalo udah begini liatnya jadi simpel banget kan?

Umar mencintai Rasulullah melebihi cintanya pada dirinya sendiri. Misal ketika Rasulullah cinta sama sesuatu, otomatis tuh (gak pake upgrade lagi) Umar juga langsung cinta juga, walaupun mungkin sebelumnya Umar b aja sama sesuatu itu.

Jibril juga neh. Awalnya kan si Fulan itu melakukan segala sesuatu yg Allah cintai dan meninggalkan segala yang Allah benci hingga Allah mencintainya. Ketika Allah sudah mencintainya, Allah menyuruh Jibril mencintai si Fulan. Jibril langsung nurut dong, wong malaikat mah gak banyak membantah kayak manusia, argumen/debat doang digedein, amal mah seadanya. Sedih gue 😢. Nah, Jibril kan langsung cinta tuh. Setelah itu Jibril ngomongin tentang si Fulan yang dicintai Allah ke geng-nya macem Mikail, Izrail, Israfil dll, malaikat-malaikat utama. Akhirnya seluruh anggota geng Jibril mencintai si Fulan. Nyebar lagi tuh dari seluruh anggota geng Jibril ke seluruh penghuni langit, bahwa Allah mencintai si Fulan. Dan seluruh penghuni langit pun mencintainya.

Waduh, kalo gini caranya kan jadi viral deh si Fulan itu di langit? Jadi selebgram dong di langit ya?

Yaa begitulah. . . Cinta itu mencintai yang dicintai sang kecintaan dan memandang segala sesuatu dari sudut pandang si dia.

Mari berdoa seperti doanya Nabi Daud 'alaihissalam.
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu cinta-Mu,
dan cinta orang-orang yang mencintai-Mu,
dan aku memohon kepada-Mu perbuatan yang dapat mengantarkanku kepada cinta-Mu.

Aamiin Allahumma Aamiin

Bekasi, 8 Juni 2017

Dinda A. Putri

Kamis, 01 Juni 2017

Topeng Si Bandel Kesayangan

Mengingat kata "topeng" gue cuma bisa tertawa geli. Pasalnya adek gue, Gilang, sedang demam main hacker-hackeran sejak virus WannaCry kemarin yang rame banget diomongin. Hahaha. Denger kata "hacker" gue langsung inget film Jerman yang judulnya "Who Am I" yang gue tonton waktu pelajaran Bahasa Indonesia kelas 12 karena kita bosan. Fix, jangan ditiru. Gue dan Kakak gue kasih liat film itu ke Gilang. Walhasil, dia jadi gila. Parahnya, nggak lebih dari seminggu yang lalu,

Gilang udah nonton ulang film itu sampe 12 kali.

WKWKWKWK.

Buset dah. Adek gue kalo kebawa arus gitu amat yak😂. Semua tingkah lakunya sekarang macem hacker aja. Sampe beli topeng yang mirip Clay. Puluhan ribu direlain padahal kalo disuruh sedekah susahnya minta ampun. Mungkin dia belum dapet hidayah. Kalo udah, bisa jadi dia lebih gila sedekahnya dari semua orang di rumah ini. Hahaha.

"Plis lu punya duit beli yang berfaedah dikit kek" komentar gue
"Ntar gua pake jaket terus pake topengnya. Foto dah!"
"Liat aja besok mama buang topengnya!" HAHAHA
Mama yang transfer tapi kok Mama yang buang sih. Sa ae ah si Mama 😘

Intinya, dia tuh gampang banget kebawa arus. Gampang suka sama sesuatu yang menurut dia keren. Gue banget nih.

Eh btw, pernah loh Gilang tuh kecanduan main. Emang dari dulu sih dia doyan main😂. Dia bisa anggap main tuh lebih berharga dari emas tau gak ahahaha. Waktu awal-awal diajak umroh aja dia gak mau karena katanya waktu main dia bakalan berkurang. Padahal itu umroh udah gratis alias dibayarin orang. Kita udah pasrah Gilang gak bakalan ikut, sampe H-seminggu keberangkatan, alhamdulillah dia dapat hidayah (read: berubah pikiran). Diurus deh tuh segala keperluannya dan berangkat juga. Emang Allah yang Maha Membolak-balikkan hati ya, sekarang dia malah kecanduan mau balik lagi. Anggep Indonesia gak seasik di sana lah, apa lah. Bahkan, dia minta dibeliin gamis buat cowok. HAHAHA mimpi apa gue bakalan liat Gilang minta pake gamis. Biasanya mah, celana abu-abu buat dia SMA aja udah dikecilin sendiri tanpa sepengetahuan Mama. Alay emang. Mungkin sedang masa pencarian jati diri ahahha. Doakan saja.

Pernah abis pulang umrah gue bilang punya cita-cita.
"Pokoknya gue harus jadi orang kaya, biar bisa berangkat umrah/haji minimal satu tahun sekali. Minimal banget."
"Gua bakal bisa sehari sekali!!!" jawab Gilang.
"Heleh gimana caranya sehari sekali?! Gak pulang-pulang dong lu?"
"Bodo gua harus ngelebihin lu dalam hal apa pun."
Bagus juga sih dream-nya, tapi jawabannya bikin gue kzl. Hahaha.

Ini beberapa percakapan gak penting gue kalo lagi sama dia. Gak penting tapi cukup bisa menghilangkan stres karena banyak pikiran yang gak bisa gue ceritain ke siapapun. Gue pakenya gue-lo karena emang udah biasa aja wkwk.
"Kak lu mesti tau, sebenarnya gua yang bikin virus WannaCry itu. HAHAHA."
"Bodo lang bodo."
"Kenapa sih nama lu mesti dinda?! Mending gak usah punya nama gua mah" (nada bicara sangat mengejek)
"Daripada lu, gilang itu singkatan dari: orang gila dan ilang"
"Elah iya ya!" lalu teriak ke Mama "Nama iyang kok jelek sih mah?!"
"HAHAHHAHA" gue ngakak karena merasa menang
"Kenapa sih keluarga kita gak ada yang namanya Muhammad? Coba nama gua Muhammad Gilang, keren kali ya."

Hingga suatu hari gue bisa menemukan instagram gilang tanpa sengaja, liat namanya di sana "Muhammad Gilang".

Anjir gue ngakak guling-gulingan. Bener-bener dia ganti sendiri namanya WKWKWK.

Udah ah segitu aja ceritanya. Bye.

Bekasi, 2 Juni 2016

Dinda A. Putri

Minggu, 23 April 2017

Hello, What's Up?

Hello, Guys!
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh....

Apa kabar ini blog? Sudah terlalu lama diabaikan pemiliknya wkwk.
Btw, ini gue ngetik langsung di draft blog ye. Jarang-jarang gue ngetik langsung. Malem-malem lagi. Biasanya gue ngetik di hp dulu baru gue copas ke blog. Oke ini gak penting juga ya. #abaikansaja

Sebenernya gue seneng nulis. Lebih tepatnya ngetik sih. Ya karena gue bukan tipe orang yang suka nulis diary dengan handwriting. Selalu gak pernah bener kalo gue punya diary. Ujung-ujungnya gue ancurin itu buku yang gue beli mahal-mahal karena menilai betapa sampah tulisan gue di sana. Atau takut dibaca orang lain. Terutama adek gue yang super iseng banget-banget-_-

Dulu impian gue punya blog tuh...pengen dapet duit. Hehe. Matre ya? Nggak kok. Iseng doang sebenernya. Gue gak niatan bikin blog sampe segitunya. Semua itu terjadi karena guru TIK gue di SMP nyuruh bikin blog sebaguuuus mungkin. Yang blognya bisa steals his attention bakalan dapet reward, yaitu gak perlu ikut ujian apapun sampe lulus (btw, itu pas kelas 9) dan nilai di rapor udah 90 (apa 95 ya? Gue lupa-_-). Akhirnyaaa jadilah blog ini!!!
Gitu sih, guys. Gue pengen cerita aja. Sorry ya kalo gak penting.

Kenapa sampe sekarang isi blognya kosong? Nopee, gue pernah isi kok. Cuma ya itu, pernah. Biasanya gue update-delete-update-delete. Semoga gak gitu terus ya swallow ada kw-nya. Hm.

By the way, kok dari tadi gue ngomong gak jelas banget ya?
Gue tuh pengen banget jadiin blog ini bisa bermanfaat buat orang lain. Dulu gue pernah punya ide buat jadiin blog ini kumpulan tugas-tugas purba gue semasa sekolah. Cielah sekolah hahaha. Tapi semua itu berakhir ketika negara api menyerang.... Bukan deh, ketika tiba-tiba flashdisk kumpulan tugas gue terpaksa harus diformat karena virus. Gue benci banget virus. Apalagi virus merah jambu #salfokmba #hm

Yaudah deh pada akhirnya gue tetep mau nulis di sini. Entah apa yang bakal gue update. Mungkin akan sangat tidak jelas karena isinya cuma curhatan gue. Atau kalau dikira bermanfaat boleh juga gue share. Btw, ini sudah larut malam ya. Sudah lewat pukul 00.00 dan gue mulai dimarahin mama karena belum bobo.

See ya, guys!
Please wish me will comeback lol

01.00

Diberdayakan oleh Blogger.
Recommended Post Slide Out For Blogger

Followers