Hari itu tanggal 1 Juli 2017. Heboh berita di berbagai media mengenai kedatangan Presiden Amerika Serikat ke-44, Barack Obama. Aku sudah mengetahui itu sebelum kedatangan beliau karena diberitahu seorang teman untuk ikut ke acara Kongres Diaspora RI di Jakarta, tepatnya Kota Kasablanka. Alhamdulillah aku sudah daftar untuk acara konvesi Diaspora. Namun, untuk sesi pembukaan dengan pembicara Barack Obama aku hanya mendapat tiket waiting list yang berarti tidak pasti apakah aku benar-benar ikut atau tidak. Bismillah, paginya aku berangkat juga naik kereta. Sendirian. Maaf, ini tidak sedang menjelaskan betapa jomblonya diriku 😀. Tadinya ada seorang teman yang mau bareng tapi dia tidak dapat tiket waiting list, jadi katanya ia mau berangkat siang. Aku iyakan saja, sebab sebenarnya aku bukan takut sendirian. Tapi, itu hanya alasan agar aku diberi izin oleh orang tuaku.
Alhamdulillah sampai di sana masih antri. Aku sangat tau resiko ini. Tapi prinsipku satu,
"Kalau ini takdir baik untukku, Allah sangat mampu untuk membuat aku bisa masuk. Bahkan, yang sudah datang pun bisa Allah buat pulang lagi atas alasan apa pun."
Aku tidak peduli harus menunggu seberapa lama pun kalau aku bawa mp3 kesayanganku. Mp3 yang buat satu detik perjalananku menjadi tidak sia-sia. Ya, itu mp3 berisi alquran pemberian kakakku. Aku hanya mampu berdoa. Bukan hanya, itu adalah kekuatan paling besar yang dimiliki seorang hamba.
Oh ya, aku juga dapat banyak teman baru. Aku sendiri bingung dengan diriku. Aku bukan termasuk orang yang mudah bersosialisasi atau mendapat kawan baru dalam waktu singkat. Anehnya ternyata semua begitu mudah. Aku syukuri itu.
Sangat disayangkan, aku tidak mengikuti acara sampai selesai. Karena malamnya ada konser dan aku orang yang tidak terlalu suka dengan hiruk-pikuk keramaian, akhirnya sore harinya aku makan lalu pulang bersama dua orang teman.
Dari beberapa teman yang baru kukenal, tidak seorang pun yang pulangnya searah ke Bekasi. Lagi-lagi aku harus sendiri. Ditambah baterai hp mulai habis padahal nanti harus pesan ojek online. Akhirnya aku matikan total hp agar tidak menyedot baterai terlalu banyak saat tidak dipakai. Aku duduk di gerbong khusus perempuan. Baru saja menempelkan bokong, aku lihat seorang ibu berdiri sambil bola matanya mencari siapa kiranya yang bersedia bertukar posisi dengan dirinya. Aku lihat semua sibuk memainkan ponselnya masing-masing. Tanpa pikir panjang aku panggil ibu itu mempersilakan kursiku. Kulihat matanya berbinar dan senyumnya merekah. Ternyata, itu sudah cukup buat aku merasa lebih bahagia.
Entah kenapa aku memang mudah merasa capek. Aku berdoa semoga dapat kursi karena di sekitarku sudah tidak ada orang tua yang berdiri. Alhamdulillah, tidak lama setelah doa benar-benar dapat kursi. Saat itu terasa sangat nyata keberadaan Allah dan bahwa Dia Maha Mendengar segala isi hati.
Perjalanan ini memang bukan perjalanan panjang ataupun petualangan. Tapi aku percaya, safar mengandung banyak hikmah. Inilah yang menjadi topik terakhirku bersama teman baruku di stasiun waktu itu sebelum kami berpisah mengenai akhlak seseorang pada saat safar.
Ada cerita menarik terkait hal ini tentang Umar.
Suatu hari ketika seseorang memuji kawannya dalam persaksian sebagai orang baik, Umar bertanya padanya,
”Apakah engkau pernah memiliki hubungan dagang atau hutang piutang dengannya, sehingga engkau mengetahui sifat jujur dan amanahnya?”
”Belum...," jawabnya ragu.
"Pernahkah engkau berselisih perkara dan bertengkar hebat dengannya sehingga tahu bahwa dia tidak fajir dalam berbantahan?”
"Hmm.. belum juga," jawabnya.
”Pernahkah engkau bepergian dengannya selama 10 hari sehingga telah habis kesabarannya untuk berpura-pura lalu kamu mengenali watak-watak aslinya?”
"Itu juga belum," jawabnya.
Umar pun berkata:
"Kalau begitu, pergilah kau, Wahai Hamba Allah! Demi Allah, kau sama sekali tidak mengenalnya!"
Bekasi, 4 Juli 2017
Dinda A. Putri


0 komentar:
Posting Komentar